Oleh dr. Hafidhaturrahmah, Msc, Sp. A – Dokter Spesialis Anak RSU Harapan Ibu
“Dok…anak saya kejang” seorang ibu tergopoh-gopoh membawa anaknya umur dua tahun paska kejang di rumah. Tampak ada bekas hitam kopi di bibirnya dan kekuningan di dahinya. Saat diukur suhu tubuhnya 38 derajat celcius.
Pernahkah anak anda kejang atau step saat demam tinggi? Tentunya sebagai orang tua anda akan panik dan segera mendekap anak anda, berharap kejang akan berhenti. Kejang selalu menjadi momok menakutkan bagi orang tua apalagi jika itu pertama kalinya melihat anak kejang. Berbagai mitos seperti diberi kopi maupun dibalur beraneka rupa herbal dipercaya dapat mengurangi kejang, padahal tidak benar.
Apa itu kejang demam
Kejang demam merupakan kejang yang murni karena demam di atas >38 derajat Celcius dan bukan karena infeksi otak. Kejang demam sering dijumpai dan terjadi pada 2-5% anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Puncaknya terjadi pada usia 18 bulan dan menurun kejadiannya pada anak di atas 3 tahun. Namun jika sebelumnya ada kejang tanpa demam maka kondisi sekarang tidak dapat dikategorikan sebagai kejang demam.
Penyebab demam saat kejang demam berasal dari berbagai infeksi seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), infeksi telinga (otititis media akut), infeksi saluran kemih (ISK), maupun infeksi virus.
Sekitar 80% kejang demam yang terjadi pada anak masuk dalam kriteria kejang demam sederhana (KDS) dimana biasanya berlangsung singkat <15 menit, kejang meliputi seluruh tubuh seperti mata melotot ke atas, kaki dan tangan kelonjotan dan tidak berulang dalam waktu 24 jam. Sebagian jenis kejang ini berlangsung kurang dari 5 menit dan biasanya akan berhenti sendiri. Paska kejang, anak akan langsung sadar, kembali menangis walaupun awalnya seperti orang bingung atau lelah.
Tentu saja orang tua tetap harus waspada karena ada pula tipe kejang demam kompleks (KDK) dimana kejang berlangsung lama > 15 menit, kejang hanya di satu sisi bagian tubuh saja atau kejang berulang lebih dari sekali dalam 24 jam. Anak yang kejang seperti ini berisiko mengalami kejang berulang ketika demam terutama bila usia anak kurang dari 15 bulan.
Penanganan kejang demam di rumah
Saat melihat anak kejang di rumah, orang tua dapat menarik napas dalam terlebih dahulu agar tetap tenang dan tidak panik. Berikut yang dapat dilakukan saat anak kejang
Kapan harus ke dokter
Jika kejang demam lebih dari 5 menit, kejang pertama, anak tidak kembali sadar (terus tertidur dan sulit dibangunkan), mengalami kelumpuhan, leher kaku jika ditekuk, muntah-muntah, sesak napas maka segera bawa ke dokter. Hal ini penting untuk mendiagnosis kejang demam atau kejang radang otak meningoensefalitis.
Dokter akan memberikan penangan pertama dulu saat anak datang dengan kejang, setelah kejang teratasi maka dokter akan menanyakan berapa lama anak kejang, ciri-ciri kejang apakah sentakan seluruh tubuh atau hanya kaku di bagian tertentu saja, riwayat kejang sebelumnya, riwayat kejang dalam keluarga besar, apakah paska mendapatkan imunisasi dan penyakit penyerta lain seperti batuk, pilek, diare, dan nyeri tenggorokan untuk menggali infeksi penyerta.
Orang tua tidak perlu khawatir jika ini kejang demam karena tidak menimbulkan kecacatan, gangguan perkembangan mental maupun gangguan saraf lainnya. Namun pada beberapa kasus, kejang demam dapat berulang terutama jika ada riwayat kejang dalam keluarga, pertama kali mengalami kejang demam saat umur 1 tahun, atau saat kejang demam suhu tubuhnya < 39 derajat Celcius .
Oleh karenanya penting bagi orang tua untuk memiliki termometer di rumah sehingga dapat mengukur suhu demam dengan pasti. Jika demam teratasi baik maka kemungkinan kejang demam dapat dihindari walaupun ambang demam penyebab kejang pada tiap anak beda-beda.
About the Author