artikel

ByRSU Harapan Ibu

RSU Harapan Ibu Berpartisipasi Memeriahkan HKN 2022

Memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022, RSU Harapan Ibu Purbalingga berpartisipasi pada rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga berkolaborasi dengan salah satu stasiun televisi nasional ANTV melalui kegiatan Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) di Alun-alun Purbalingga.

Direktur RSU Harapan Ibu Purbalingga, dr. Hayati Isti Fadah bersama perwakilan karyawan dan karyawati menghadiri kegiatan senam dan cuci tangan bersama pada Sabtu (29/10).

Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, RSU Harapan Ibu Purbalingga turut berpartisipasi pada Aksi Germas untuk menggaungkan budaya hidup bersih sehat masyarakat khususnya bagi masyarakat Purbalingga.

Aksi Germas berkolaborasi dengan Kejutan ANTV Rame berlangsung meriah diawali dengan kegiatan cuci tangan bersama perwakilan dari pelajar Purbalingga, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan senam bersama kader kesehatan, perusahaan swasta se-Purbalingga yang juga diikuti oleh Direktur dan Karyawan/ti RSU Harapan Ibu Purbalingga bersama dengan Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi.

“Melalui kegiatan germas, kami mendukung penuh kemajuan tingkat kesehatan masyarakat Purbalingga”. Pungkas dr. Hayati Isti Fadah.

ByRSU Harapan Ibu

Tanggap Bencana, RSU Harapan Ibu Purbalinga Salurkan Donasi Bantu Korban Bencana Longsor di Karangreja.

RSU Harapan Ibu Purbalingga Salurkan Donasi untuk Warga Purbalingga yang terdampak Bencana Alam Tanah Bergerak dan Tanah Longsor di Desa Siwarak dan Tlahab Lor, Kecamatan Karangreja. Penyerahan Donasi Ini dilakukan oleh perwakilan tim HI Peduli pada Jumat (28/10).

Bakti Sosial diselenggarakan sebagai bentuk Kepedulian RSU Harapan Ibu Purbalingga terhadap Warga Purbalingga yang terdampak bencana alam tanah bergeser dan tanah  longsor yang terjadi pada Selasa (25/10).

Terdapat dua lokasi penyerahan donasi yakni di Balai Desa Tlahab Lor dan Dapur Umum Posko Bencana Desa Siwarak. Dalam kegiatan ini, Tim HI Peduli memberikan bantuan berupa bahan makanan seperti beras, gula pasir, minyak goreng, kopi, teh, biskuit, bumbu dapur, dan air mineral. Selain itu, tim RSUHI Peduli juga menyiapkan diapers balita dan dewasa serta buku menggambar lengkap dengan alat mewarnai sebagai penunjang kegiatan harian pengungsi anak-anak di posko bencana.

Tim Pramuka Peduli, Ibu Suci Dwi Utami mengucapkan terima kasih atas donasi yang telah disalurkan. “Terima terima kasih untuk bantuan yang telah disampaikan, InsyaAllah sangat bermanfaat”.

Bydr. Melati Nuretika - Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga

Diabetes Melitus (Tipe 2)

 Apa Itu Diabetes Melitus ?

Diabetes Melitus Tipe 2 atau yang lebih kita kenal dengan penyakit kencing manis atau penyakit gula. Diabetes melitus merupakan penyakit dimana kadar gula (glukosa) dalam darah yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh gangguan metabolisme, dimana terjadi gangguan pada fungsi insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah atau sering disebut dengan kondisi hiperglikemia.

 

Apa Tanda dan Gejalanya ?

Gejala utama yang timbul pada penderita diabetes melitus antara lain keluhan sering buang air kecil terutama pada malam hari, rasa haus yang berlebihan, rasa lapar yang berlebihan sehingga nafsu makan meningkat dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Gejala lain juga dapat dirasakan oleh penderita diabetes melitus ini yaitu badan lemas seperti kurang tenaga, kesemutan, gatal dan mata kabur. Gejala tersebut juga perlu ditunjang dengan pemeriksaan gula (glukosa) darah yang dapat anda lakukan di fasilitas kesehatan terdekat. Hasil pemeriksaan glukosa darah dikatakan tinggi apabila kadar glu

kosa darah sewaktu didapatkan hasil ≥ 200mg/dl, atau glukosa darah puasa ≥126mg/dl. Bila anda mengalami salah satu atau beberapa gejala seperti diatas, segeralah untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

 

Apa Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 ?

Faktor risiko kejadian diabetes melitus antara lain :

  1. Berat badan berlebih atau obesitas
  2. Adanya distribusi lemak yang tinggi di perut
  3. Gaya hidup yang kurang aktivitas atau jarang berolahraga
  4. Riwayat penyakit diabetes melitus dalam keluarga
  5. Usia diatas  45 tahun
  6. Kelompok ras atau etnis tertentu
  7. Riwayat prediabetes
  8. Pada wanita adanya riwayat diabetes saat hamil atau melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4kg, serta wanita yang menderita sindrom ovarium polikistik

 

Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2

Berdasarkan faktor risiko yang sudah disebutkan, hal-hal tersebut dapat menjadi perhatian untuk kita dalam rangka mencegah penyakit diabetes melitus tipe 2. Upaya pencegahan yang dapat anda lakukan terutama adalah perubahan gaya hidup. Perubahan gaya hidup harus menjadi intervensi awal, terutama bagi kelompok risiko tinggi. Selain itu, dianjurkan juga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala pada kelompok usia lebih dari 45 tahun.

Perubahan gaya hidup yang dianjurkan adalah :

  • Pengaturan pola makan. Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.
  • Meningkatkan aktivitas fisik dan latihan jasmani. Latihan jasmani yang dianjurkan adalah latihan jasmani yang dilakukan 150 menit per minggu dengan aerobik sedang (mencapai 50 – 70% denyut jantung maksimal) yang dibagi dalam 3 sampai 4 kali aktivitas per minggu.
  • Menghentikan kebiasaan merokok. Pada kelompok risiko tinggi dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan, dikarenakan mungkin perlu dipertimbangkan pemberian obat oleh dokter.

 

Tentang Penulis

Artikel Kesehatan ini ditulis oleh dr. Melati Nuretika, Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga.

ByEko Susanto, Amd.Kep. - Perawat RSU Harapan Ibu Purbalingga

Dampak Buruk Narkoba dalam Krisis Kesehatan dan Kemanusiaan

Apa itu Narkotika?

Narkotika adalah zat atau obat baik yang bersifat alamiah, sintetis, maupun semi sintetis yang menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang. Sementara menurut UU Narkotika pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa narkotika merupakan zat buatan atau pun yang berasal dari tanaman yang memberikan efek halusinasi, menurunnya kesadaran, serta menyebabkan kecanduan.

Obat-obatan tersebut dapat menimbulkan kecanduan jika pemakaiannya berlebihan. Pemanfaatan dari zat-zat itu adalah sebagai obat penghilang nyeri serta memberikan ketenangan.

Jenis Narkoba (Narkotika dan Obat-obatan)

Kandungan yang terdapat pada narkoba tersebut memang bisa memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan jika disalahgunakan. Menurut UU tentang Narkotika, jenisnya dibagi menjadi menjadi 3 golongan berdasarkan pada risiko ketergantungan.

  1. Narkotika Golongan 1

Narkotika golongan 1 seperti ganja, opium, dan tanaman koka sangat berbahaya jika dikonsumsi karena beresiko tinggi menimbulkan efek kecanduan.

  1. Narkotika Golongan 2

Sementara narkotika golongan 2 bisa dimanfaatkan untuk pengobatan asalkan sesuai dengan resep dokter. Jenis dari golongan ini kurang lebih ada 85 jenis, beberapa diantaranya seperti Morfin, Alfaprodina, dan lain-lain. Golongan 2 juga berpotensi tinggi menimbulkan ketergantungan.

  1. Narkotika Golongan 3

Narkotika golongan 3 memiliki risiko ketergantungan yang cukup ringan dan banyak dimanfaatkan untuk pengobatan serta terapi.

Bahaya dan Dampak untuk Hidup dan Kesehatan

Peredaran dan dampak narkoba saat ini sudah sangat meresahkan. Mudahnya mendapat bahan berbahaya tersebut membuat penggunanya semakin meningkat. Tak kenal jenis kelamin dan usia, semua orang berisiko mengalami kecanduan jika sudah mencicipi zat berbahaya ini.

Meski ada beberapa jenis yang diperbolehkan dipakai untuk keperluan pengobatan, namun tetap saja harus mendapatkan pengawasan ketat dari dokter. Ada banyak bahaya narkoba bagi hidup dan kesehatan, di antaranya adalah:

  1. Dehidrasi

Penyalahgunaan zat tersebut bisa menyebabkan keseimbangan elektrolit berkurang. Akibatnya badan kekurangan cairan. Jika efek ini terus terjadi, tubuh akan kejang-kejang, muncul halusinasi, perilaku lebih agresif, dan rasa sesak pada bagian dada. Jangka panjang dari dampak dehidrasi ini dapat menyebabkan kerusakan pada otak.

  1. Halusinasi

Halusinasi menjadi salah satu efek yang sering dialami oleh pengguna narkoba seperti ganja. Tidak hanya itu saja, dalam dosis berlebih juga bisa menyebabkan muntah, mual, rasa takut yang berlebih, serta gangguan kecemasan. Apabila pemakaian berlangsung lama, bisa mengakibatkan dampak yang lebih buruk seperti gangguan mental, depresi, serta kecemasan terus-menerus.

  1. Menurunnya Tingkat Kesadaran

Pemakai yang menggunakan obat-obatan tersebut dalam dosis yang berlebih, efeknya justru membuat tubuh terlalu rileks sehingga kesadaran berkurang drastis. Beberapa kasus si pemakai tidur terus dan tidak bangun-bangun. Hilangnya kesadaran tersebut membuat koordinasi tubuh terganggu, sering bingung, dan terjadi perubahan perilaku. Dampak narkoba yang cukup berisiko tinggi adalah hilangnya ingatan sehingga sulit mengenali lingkungan sekitar.

  1. Kematian

Dampak narkoba yang paling buruk terjadi jika si pemakai menggunakan obat-obatan tersebut dalam dosis yang tinggi atau yang dikenal dengan overdosis. Pemakaian sabu-sabu, opium, dan kokain bisa menyebabkan tubuh kejang-kejang dan jika dibiarkan dapat menimbulkan kematian. Inilah akibat fatal yang harus dihadapi jika sampai kecanduan narkotika, nyawa menjadi taruhannya.

  1. Gangguan Kualitas Hidup

Bahaya narkoba bukan hanya berdampak buruk bagi kondisi tubuh, penggunaan obat-obatan tersebut juga bisa mempengaruhi kualitas hidup misalnya susah berkonsentrasi saat bekerja, mengalami masalah keuangan, hingga harus berurusan dengan pihak kepolisian jika terbukti melanggar hukum.

Pemakaian zat-zat narkotika hanya diperbolehkan untuk kepentingan medis sesuai dengan pengawasan dokter dan juga untuk keperluan penelitian. Selebihnya, obat-obatan tersebut tidak memberikan dampak positif bagi tubuh. Yang ada, kualitas hidup menjadi terganggu, relasi dengan keluarga kacau, kesehatan menurun, dan yang paling buruk adalah menyebabkan kematian. Karena itu, jangan coba-coba memakai barang berbahaya tersebut karena resikonya sangat tinggi bagi hidup dan kesehatan.

Kasus Narkoba di Indonesia

Masalah Narkoba di negara manapun seperti tidak ada habis – habisnya, seakan tidak pernah bisa dikondisikan dengan maksimal. Dikutip dari Website Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia sepanjang tahun 2021 mengungkap  766 kasus dengan 1184 tersangka. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose mengungkapkan terjadi peningkatan prevalensi pengguna narkoba di Indonesia pada 2021 sebesar 0,15 persen, sehingga menjadi 1,95 persen atau 3,66 juta jiwa. Dari data tersebut kasus terbanyak adalah dari kalangan remaja, menurut riset ada 57 % remaja yang mencoba narkoba. Remaja sangat rentan menggunakan obat – obatan terlarang tersebut dikarenakan pergaulan antara teman yang tidak sehat atau lingkungan yang bisa membawanya kejalan yang salah.

Pihak berwajib harus ekstra dalam menangani kasus – kasus tersebut, diharapkan selain menindak pihak berwajib juga harus turut memberikan konseling mengenai bahaya pemakaian narkoba kepada warga masyarakat yang rentan untuk memakai barang haram tersebut. selain itu kita sebagai warga negara yang baik juga harus andil dalam mencegah penyebaran narkoba didaerah kita sendiri, selidiki dan laporkan untuk kebaikan bersama. Kita sebagai generasi muda harus mampu menolak keras pengunaan Narkoba, walaupun dipaksa dan di gratiskan untuk mencobanya tentu kita harus jelas mengatakan TIDAK!. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa pemakai Narkoba akan merasakan penderitaan baik dari masalah ekonomi, Kesehatan maupun psikologinya.  

Hari Narkoba Internasional pada tanggal 26 Juni 2022 adalah momentum untuk ikut dalam Tindakan preventif penyalahgunaan narkoba. Perayaan yang dilaksanakan tentunya bertujuan untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya narkoba sekaligus bertujuan untuk membangun kesadaran semua pihak bahwa narkoba adalah barang yang berbahaya bila disalahgunakan. Terlebih masih adanya ketidakpahaman masyarakat mengenai narkoba dan resiko yang ditumbalkanya dapat menjadi celah para bandar dalam memasarkan dan memasok barang haram dan berbahaya tersebut.

 

Tentang Penulis

Artikel Kesehatan ini ditulis oleh Eko Susanto, Amd.Kep., Perawat RSU Harapan Ibu Purbalingga.

ByFrizka Arlyfia Firdha Shafara, S.Gz. - Ahli Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga

Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia mengalami penurunan 1,6% per tahun dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 24,4% pada tahun 2021, akan tetapi angka ini masih tergolong relatif besar dari standar WHO yaitu 20%.

Apa Itu Stunting?

Stunting merupakan masalah yang mengakibatkan kondisi gagal tumbuh pada anak usia kurang dari lima tahun. Penyebab stunting dimulai saat anak di dalam kandungan karena pola makan ibu yang kurang baik, namun gejalanya baru muncul ketika anak berusia sekitar dua tahun. Anak yang mengalami kondisi stunting bukan hanya pertumbuhan fisiknya saja yang terganggu, melainkan perkembangan otaknya juga akan terganggu. Hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi anak tersebut. Kondisi stunting pada anak usia di bawah 2 tahun akan memberikan pengaruh pada usia dewasanya nanti seperti penurunan IQ, obesitas, penyakit tidak menular dan lain-lain.

Dapatkah Gagal Tumbuh Anak Dicegah?

Kabar baiknya stunting dapat dicegah sedini mungkin, terutama pada masa 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan), terdiri atas 270 hari selama kehamilan yang dimulai sejak hari pertama pembuahan atau terbentuknya janin, dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan anak. Perkembangan fisik maupun otak anak sangat pesat pada masa ini, sehingga pemenuhan gizi di masa ini sangat perlu diperhatikan, sebab jika tidak dipenuhi asupan gizinya, maka dampak yang timbul selama perkembangan anak akan bersifat permanen.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Seorang ibu harus memiliki status gizi yang baik dan tidak mengalami anemia sebelum dan selama mengandung. Calon ibu perlu menerapkan diet gizi seimbang sebelum kehamilan. Kemenkes merekomendasikan bahwa makanan yang sehat harus terdiri dari sepertiga buah dan sayuran, sepertiga makanan pokok seperti nasi dan sepertiga protein seperti daging, ikan atau sumber protein nabati. Asupan gizi merupakan salah satu faktor penentu kesehatan ibu dan janin. Kurangnya asupan gizi selama hamil dan gaya hidup yang kurang sehat membuat janin berisiko lebih tinggi mengalami gangguan, mulai dari hambatan tumbuh kembang hingga cacat bawaan lahir. Selama masa kehamilan seorang ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, dan suplemen yang mengandung omega 3 dan 6, zat besi (Fe), asam folat dan vitamin C. Selain asupan gizi yang harus terpenuhi, kontrol kehamilan secara rutin juga diperlukan untuk mengetahui kesehatan ibu dan janin. Menjelang melahirkan seorang ibu juga sudah harus mendapatkan edukasi pentingnya ASI dan MPASI, serta peran orang tua untuk mempraktikkan pola hidup bersih yang benar, termasuk mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum meyiapkan makanan atau makan.

Sangat dianjurkan bagi bayi yang baru lahir harus mendapat IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan ASI Eksklusif. Selanjutnya bayi yang sudah berumur 6 bulan atau lebih mulai diberi MPASI (Makanan pendamping ASI). Menginjak umur 8-24 bulan dilanjutkan dengan ASI dan diberi makanan sesuai dengan kemampuan bayi. Asupan gizi yang diberikan kepada bayi harus mengandung gizi seimbang yang terdiri dari sumber karbohidrat (nasi, ubi, kentang, jagung), protein (ikan, ayam, daging, telur, tahu, tempe, kacang-kacangan), lemak (minyak goreng, margarin, dan mentega) dan vitamin  & mineral dari buah-buahan atau sayur-sayuran.

Terpenuhinya gizi seimbang sejak dini yakni pada masa 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan) dapat mencegah terjadinya stunting, dan diharapkan akan menjadi generasi penerus bangsa yang berstatus gizi baik, sehat, dan berprestasi.

Tentang Penulis

Artikel Kesehatan ini ditulis oleh Frizka Arlyfia Firdha Shafara, S.Gz., Ahli Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga.

Bydr. Dian Pratama Putra – Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga.

Setetes Darah Anda Menyelamatkan Nyawa Mereka

 

Mengenal Darah.

Darah merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam hidup manusia. Darah merupakan campuran dari beberapa komponen plasma dan sel-sel yang menyatu dan memiliki fungsi yang sangat vital dalam kelangsungan hidup. Salah satunya, darah berfungsi sebagai alat transportasi. Darah membawa seluruh zat dan material yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melangsungkan proses metabolisme dan proses pertahanan tubuh dari infeksi bakteri dan virus.

Darah dipompa oleh ventrikel kanan menuju paru, untuk selanjutnya terjadi proses difusi di dalam alveolus. Oksigen (O2) yang dihirup saat inspirasi berdifusi dengan karbon dioksida (CO2), sisa dari proses metabolisme tubuh untuk selanjutnya karbon dioksida (CO2) dikeluarkan dari paru melalui proses ekspirasi pernafasan.

Di dalam darah, oksigen akan berikatan dengan salah satu komponen penyusun darah, yaitu hemoglobin (Hb). Selanjutnya, darah akan kembali ke atrium kiri, dan kemudian masuk ke ventrikel kiri. Jantung, melalui ventrikel kiri, akan memompakan darah melalui aorta dan seterusnya darah didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah arteri. Darah membawa material dan zat yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh untuk melangsungkan proses metabolisme, dimana proses metabolisme ini akan menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup dari sel-sel penyusun organ tubuh. Sisa dari metabolisme akan dibawa kembali oleh darah untuk disekresikan melalui beberapa organ seperti paru, ginjal dan sebagainya.

Darah juga berfungsi sebagai media defense alami tubuh terhadap proses infeksi baik virus atau bakteri. Melalui leukosit, tubuh akan mempertahankan diri dari serangan infeksi bakteri. Leukosit akan menghasilkan antibody untuk melawan antigen yang dihasilkan oleh zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Darah akan mendistribusikan “pasukan pertahanan” menuju organ yang menjadi vocal infeksi.

Melihat begitu kompleksnya fungsi darah dalam tubuh manusia, maka keberadaan darah menjadi sangat penting. Kehilangan darah apa pun penyebabnya, akan berdampak negatif dan bisa memberi ancaman yang serius terhadap keberlangsungan hidup seseorang.

Apa itu Tranfusi Darah?

Transfusi darah merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan salah satu atau lebih komponen darah. Melalui proses transfusi ini, darah dari pendonor akan diberikan kepada yang membutuhkan.

Menurut standar World Health Organitation (WHO) jumlah kebutuhan minimal darah di suatu negara adalah 2% jumlah penduduk. Indonesia dengan jumlah populasi penduduk lebih dari 270juta jiwa, maka kebutuhan darah sesuai standar WHO adalah sekitar 5,1 juta kantong darah pertahun, sedangkan produksi darah dan komponennya saat ini sebanyak 4,1 juta kantong dari 3,4 juta donasi. Dari jumlah darah yang tersedia, 90% di antaranya berasal dari donasi sukarela.

Syarat Donor Darah.

Adapun syarat untuk melakukan donor darah adalah berusia antara 17-60 tahun dan selama kondisi kesehatannya memenuhi syarat. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Berat badan minimal 45 kg
  2. Suhu tubuh 36,6-47,5 derajat Celcius
  3. Tekanan darah sistolik 110-160 mmHg dan diastolik 70-100 mmHg
  4. Denyut nadi teratur, yaitu sekitar 50-100 kali/menit
  5. Hemoglobin wanita minimal 12 gram, sedangkan untuk pria minimal 12,5 gram
  6. Maksimal penyumbangan lima kali per tahun dengan jarak sekurang-kurangnya 3 bulan (tetap harus disesuaikan dengan keadaan pendonor)

Manfaat Bagi Pendonor Darah.

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menjadi pendonor darah. Salah satunya adalah menurunkan resiko penyakit cardiovaskuler. Penyakit cardiovaskuler adalah kelompok penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah seperti stroke, penyakit jantung coroner, hipertensi, dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan penimbunan zat besi dalam darah. Tingginya zat besi dalam darah akan meningkatkan proses oksidasi kandungan lipid yang ada di dalam darah yang akan menghasilkan penumpukan plaque pada dinding vaskuler. Penumpukan plaque ini akan menjadi hambatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas aliran didalam vaskuler. Sumbatan plaque yang terjadi pada koroner akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Sumbatan plaque di otak akan menyebabkan stroke.

Menurut American Journal of Epidemiology, kegiatan donor darah dapat menurunkan risiko penyakit jantung sebesar 33% dan serangan jantung sebesar 88%. American Medical Association mengatakan dengan mendonorkan darah setiap 6 bulan sekali dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke pada usia 43-61 tahun.

Dengan menjadi pendonor, tubuh akan menjadi lebih sehat. Darah pendonor yang diambil sebanyak kurang lebih 400-450cc setiap kali melakukan donor. Hal ini akan merangsang tubuh dalam membentuk sel-sel darah yang baru. Sehingga akan terjadi regenerasi dari sel-sel darah di dalam tubuh.

Donor darah juga dapat menurunkan risiko penyakit kanker. Hal Ini berkaitan dengan kemampuan donor dalam menjaga kadar zat besi agar tetap berada pada batas normal dalam darah. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam “Journal of the National Cancer Institute Volume 100”, orang-orang yang rutin donor darah mengalami penurunan risiko beberapa jenis kanker seperti kanker hati, usus besar, paru, esofagus, dan perut.

Tak hanya itu, dalam “Journal of the National Basic and Clinical Physiology and Pharmacology” disebut bahwa mendonorkan darah dapat menurunkan penanda inflamasi dan meningkatkan kekuatan antioksidan.

Menjadi pendonor juga memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan psikis. Dengan membantu sesama, akan menjadikan hidup kita lebih bermanfaat. Donor darah merupakan salah satu dari wujud sifat sosial dan menjadi bentuk dari sifat kepedulian manusia terhadap sesamanya. Darah yang kita donorkan akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. -DPP-

Tentang Penulis

Artikel Kesehatan ini ditulis oleh dr. Dian Pratama Putra, Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga.