dr. Angga Mintarsa, MM. – Dokter Umum RSU Harapan Ibu
Konstipasi adalah tidak mampuan melakukan evakuasi tinja secara sempurna yang tercermin dari berkurangnya frekuensi berhajat dari biasanya. Tinja akan lebih keras, lebih besar dan akan terasa nyeri saat dikeluarkan dibandingkan sebelumnya. Serta pada anak-anak akan terasa lebih jelas pada perut teraba massa tinja yang padat dan lebih keras.
Pada anak-anak yang biasanya BAB setiap hari, karena sembelit/konstipasi ini bisa buang air besar jadi 3-4 hari sekali. Hal tersebut akan menyebabkan rasa kurang nyaman pada anak tersebut. Banyak orangtua yang justru heran kenapa bisa menjadi seperti itu padahal asupan makan dan minum lancar terutama makan sayur dan buah dirasa mau untuk mengkonsumsi dan makan puding sebagai tujuan untuk asupan serat juga anak tidak menolak. Untuk kondisi anak juga tetap aktif, walaupun anak tidak mengeluh tetapi terkadang orangtua akan khawatir kenapa anak tidak BAB dengan lancar atau menjadi jarang. Dan masalah akan terjadi jika tinja menjadi padat kemudian anak menjadi kesakitan karena tidak bisa hajat dengan mudah pada saat itu orangtua akan menjadi khawatir dan cemas.
Pada anak-anak bila sebelumnya dapat buang hajat dengan lancar, ada kemungkinan konstipasi fungsional yang dapat diakibatkan justru karena terlalu banyak makan serat misalnya sayur mayur dan buah-buahan semisal buah pisang, apel dan pir. Konstipasi juga bisa karena cara toilet training yang kurang bagus dan karena penyakit lain seperti hipotiroid dan gangguan perkembangan.
Bagaimana serat justru menyebabkan konstipasi? Secara umum serat dibagi menjadi dua, serat larut air dan serat tak larut air. Serat tak larut air biasanya tidak menimbulkan sembelit karena serat ini melewati saluran pencernaan relatif utuh sehingga mempercepat perjalanan tinja di usus. Sedangkan serat larut air di dalam usus akan menyerap air. Serat ini bisa membantu menurunkan kolesterol karena bisa mengikat asam lemak dalam usus dan membunagnya bersama feses/tinja. Berfungsi juga menghambat penyerapan gula, sehingga bagus untuk penderita diabetes.
Namun serat larut air ini mempunyai efek samping tidak dicerna sempurna oleh bakteri usus yang berakibat menghasilkan gas yang jika terlalu banyak bisa menyebabkan kembung dan sebah. Kelebihan serat larut air adalah bersifat higroskopis yaitu akan membentuk jeli yang dapat berfungsi untuk mengeluarkan tinja lebih mudah. Namun jika serat yang dikonsumsi terlalu banyak tetapi air yang dikonsumsi relatif kurang maka jeli yang akan terbentuk tidak sempurna sehingga tinja akan menjadi keras dan akhirnya akan sulit untuk dibuang dan akhirnya menjadi konstipasi.
Beberapa makanan yang mengandung serat larut dalam kadar tinggi adalah beras, sereal gandum, oat, kentang, ubi jalar, bawang, apel, kacangmerah, pisang, kacang polong, kedelai, jeruk, stroberi, kismis, apricot, pir, persik, biji wijen, timun, seledri. Sedangkan untuk serat tak larut air biasanya terdapat pada umbi-umbian dengan kulitnya, buaha-buahan dengan kulitnya, gandum utuh, jagung, seledri, kubis, tomat, papaya, anggur, almond, kacang kedelai, kelapa, wortel dengan kulitnya, brokoli.
Bagaimana solusinya? Yang pertama pada saat anak sedang sembelit, kurangi serat sedikit-sedikit sampai BAB lancar kembali. Kedua, perbanyak minum air putih, karena sudah dijelaskan sebelumnya jika air putih akan membantu menyempurnakan pembentukan jeli sehingga BAB akan menjadi lancar kembali. Ketiga, seorang anak-anak biasanya suka menahan BAK entah alasan apapun. Usahakan ketika sedang sembelit anak jangan menahan BAK karena ketika anak menahan BAK, bisa menyebabkan tinja menjadi lebih besar dan keras karena penekanan tersebut. Menahan BAK juga bisa menyebabkan infeksi salurang kencing pada anak tersebut.
About the Author