Rabu (15/02) RSU Harapan Ibu Purbalingga menggelar Penyuluhan Kesehatan di Posyandu Ibu dan Anak Desa Kebutuh, Bukateja.
Penyuluhan Kesehatan dengan tema Protein Hewani Cegah Stunting ditujukan untuk Ibu dan Anak di Desa Kebutuh, Bukateja guna memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) Ke-63 sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran pentingnya protein hewani pada pertumbuhan anak guna mencegah stunting.


Rangkaian Kegiatan Penyuluhan Kesehatan diawali dengan pengukuran tinggi dan berat badan anak oleh bidan setempat. Materi Penyuluhan diampaikan oleh Kukuh Dwi Rahmawati, STR, Gz. Ahli Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga. Dilanjutkan dengan Demo pengolahan makanan bagi anak oleh Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Semarang.

Image by Freepik
Mengutip Kementerian Kesehatan RI, stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tidak memadai. Karena itu, sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dan memperhatikan kesehatan tumbuh kembangnya, agar anak tidak mengalami stunting. Stunting adalah kondisi di mana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan standar untuk usianya yang diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih rendah dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan WHO.
Pemenuhan gizi anak juga harus dilakukan sejak Si Kecil masih di dalam kandungan. Pemenuhan gizi, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, menjadi upaya pertama dalam menghindari stunting. Pemenuhan gizi tersebut meliputi gizi selama kehamilan dan masa kanak-kanak hingga usia dua tahun. Kesehatan ibu hamil dan anak juga harus dijaga dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga mengurangi kekerapan terjadinya infeksi pada ibu hamil dan masa kanak-kanak.
Pemantauan tumbuh-kembang anak secara berkala juga perlu dilakukan, baik sejak dalam kandungan, setiap bulan setelah kelahiran hingga berusia dua tahun, kemudian 6–12 bulan setelah berusia dua tahun, agar dapat segera dideteksi bila terjadi keterlambatan pertumbuhan untuk diintervensi.
Agar anak terbebas dari ancaman stunting, perlu memberikan berbagai makanan sehat kaya gizi untuk menunjang tumbuh kembang anak. Semua vitamin dan mineral tentu baik dan diperlukan tubuh anak, namun beberapa zat gizi di bawah ini adalah yang terpenting untuk mencegah anak mengalami stunting :
Yodium adalah mineral yang dibutuhkan oleh kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid. Jika Anda kekurangan mineral ini, beberapa masalah kesehatan bisa terjadi. Salah satu cara untuk mencukupi kebutuhan mineral tersebut adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung yodium. Contoh makanan yang mengandung yodium : Rumput laut, Ikan kod, Udang,Tuna,Susu dan Buah Plum.
Artikel Kesehatan ini ditulis oleh Laeli Subekti, AMG, Kepala Instalasi Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga.
Penyakit kanker tidak hanya dapat terjadi pada orang dewasa, namun juga dapat terjadi pada anak-anak. Kanker pada anak adalah penyakit yang dapat diobati serta dapat diupayakan mencapai kesembuhan. Pengobatan kanker pada anak bukanlah suatu upaya untuk memperpanjang umur semata-mata, tetapi untuk mencapai kesembuhan dari kanker. Kemungkinan sembuh dari kanker pada anak sangat bergantung pada jenis kanker, tingkat pertumbuhan kanker pada saat pertama kali ditemukan, dan waktu mulai pengobatan. Berbeda dengan anak-anak lain yang aktif bermain dan belajar, pada anak-anak yang mengidap kanker, aktivitas belajar dan bermain dapat berkurang karena proses terapi yang harus dijalani agar pertumbuhan kanker tidak menyebar ke organ tubuh yang lain.
Diketahui dari hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013, prevalensi kanker pada anak umur 0-14 tahun adalah sekitar 16.291 kasus tiap tahunnya. Hal yang menyedihkan adalah lebih dari 50% kasus kanker pada anak yang datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam keadaan stadium lanjut. Minimnya edukasi dan pengetahuan orang tua mengenai kanker, menjadi salah satu penyebab kanker yang diderita anak-anak dalam kondisi stadium lanjut. Padahal apabila dapat terdeteksi secara dini, kanker pada anak dapat disembuhkan dengan pengobatan dan terapi yang baik.
Kanker dapat menyerang anak mulai dari usia bayi sampai dengan usia 18 tahun. Kanker pada anak berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Jika kanker pada orang dewasa dapat dicegah, sementara kanker pada anak sampai saat ini belum ada pencegahan yang dapat dilakukan. Walaupun demikian, pola hidup dan pola makan yang sehat harus tetap diajarkan sejak usia dini, agar saat anak tumbuh dewasa, mereka dapat terhindar dari risiko-risko kanker yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat.
Hingga saat ini penyebab kanker pada anak belum diketahui secara pasti. Namun terdapat beberapa tanda dan gejala yang umum dan dapat dicurigai kanker pada anak. Apa saja tanda dan gejala awal kanker pada anak?
Jikalau si kecil dicurigai terkena kanker, sebaiknya segera membawanya ke Puskesmas, Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Tujuannya adalah untuk menggali lebih dalam apakah gejala yang dijumpai tersebut adalah benar kanker atau bukan.
Terdapat 8 kanker yang umum terjadi pada anak, yaitu Kanker Darah (Leukimia) pada rentang usia 3-6 tahun mencapai 30-40%, Kanker Mata (Retinoblastoma) 0,5 hingga 2 tahun dengan angka kejadian mencapai 20-30%. Sama halnya dengan kanker mata, kanker tulang dan tumor otak pada anak mencapai 20-30% angka kejadian pada anak diatas usia 10 tahun. Selanjutnya, Kanker kelenjar getah bening (Limfoma) dengan angka capaian 7-15% pada retang usia 6-10 tahun. Kanker Saraf (Neuroblastoma) yang terjadi pada anak dengan rentang usia 2-4 tahun dengan angka kejadian 7-11%. Diurutan ke-7 dan 8 yakni kanker jaringan otot (Rabdomiosarkoma) pada rentang usia 5-6 tahun dengan angka kejadian 5-9% kemudian kanker ginjal (Tumor Wilms) 5-7% pada rentang usia 2-3 tahun.
Dari data tersebut, dapat diketahui jenis kanker yang paling banyak diderita anak di Indonesia yaitu kanker darah (leukemia), kanker bola mata (Retinoblastoma), dan kanker tulang (Osteosarcoma).
Artikel Kesehatan ini ditulis oleh dr. Najib Rofi’i, Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga.
Memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022, RSU Harapan Ibu Purbalingga berpartisipasi pada rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga berkolaborasi dengan salah satu stasiun televisi nasional ANTV melalui kegiatan Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) di Alun-alun Purbalingga.

Direktur RSU Harapan Ibu Purbalingga, dr. Hayati Isti Fadah bersama perwakilan karyawan dan karyawati menghadiri kegiatan senam dan cuci tangan bersama pada Sabtu (29/10).
Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, RSU Harapan Ibu Purbalingga turut berpartisipasi pada Aksi Germas untuk menggaungkan budaya hidup bersih sehat masyarakat khususnya bagi masyarakat Purbalingga.
Aksi Germas berkolaborasi dengan Kejutan ANTV Rame berlangsung meriah diawali dengan kegiatan cuci tangan bersama perwakilan dari pelajar Purbalingga, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan senam bersama kader kesehatan, perusahaan swasta se-Purbalingga yang juga diikuti oleh Direktur dan Karyawan/ti RSU Harapan Ibu Purbalingga bersama dengan Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi.

“Melalui kegiatan germas, kami mendukung penuh kemajuan tingkat kesehatan masyarakat Purbalingga”. Pungkas dr. Hayati Isti Fadah.

RSU Harapan Ibu Purbalingga Salurkan Donasi untuk Warga Purbalingga yang terdampak Bencana Alam Tanah Bergerak dan Tanah Longsor di Desa Siwarak dan Tlahab Lor, Kecamatan Karangreja. Penyerahan Donasi Ini dilakukan oleh perwakilan tim HI Peduli pada Jumat (28/10).
Bakti Sosial diselenggarakan sebagai bentuk Kepedulian RSU Harapan Ibu Purbalingga terhadap Warga Purbalingga yang terdampak bencana alam tanah bergeser dan tanah longsor yang terjadi pada Selasa (25/10).

Terdapat dua lokasi penyerahan donasi yakni di Balai Desa Tlahab Lor dan Dapur Umum Posko Bencana Desa Siwarak. Dalam kegiatan ini, Tim HI Peduli memberikan bantuan berupa bahan makanan seperti beras, gula pasir, minyak goreng, kopi, teh, biskuit, bumbu dapur, dan air mineral. Selain itu, tim RSUHI Peduli juga menyiapkan diapers balita dan dewasa serta buku menggambar lengkap dengan alat mewarnai sebagai penunjang kegiatan harian pengungsi anak-anak di posko bencana.
Tim Pramuka Peduli, Ibu Suci Dwi Utami mengucapkan terima kasih atas donasi yang telah disalurkan. “Terima terima kasih untuk bantuan yang telah disampaikan, InsyaAllah sangat bermanfaat”.
Diabetes Melitus Tipe 2 atau yang lebih kita kenal dengan penyakit kencing manis atau penyakit gula. Diabetes melitus merupakan penyakit dimana kadar gula (glukosa) dalam darah yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh gangguan metabolisme, dimana terjadi gangguan pada fungsi insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah atau sering disebut dengan kondisi hiperglikemia.
Gejala utama yang timbul pada penderita diabetes melitus antara lain keluhan sering buang air kecil terutama pada malam hari, rasa haus yang berlebihan, rasa lapar yang berlebihan sehingga nafsu makan meningkat dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Gejala lain juga dapat dirasakan oleh penderita diabetes melitus ini yaitu badan lemas seperti kurang tenaga, kesemutan, gatal dan mata kabur. Gejala tersebut juga perlu ditunjang dengan pemeriksaan gula (glukosa) darah yang dapat anda lakukan di fasilitas kesehatan terdekat. Hasil pemeriksaan glukosa darah dikatakan tinggi apabila kadar glu
kosa darah sewaktu didapatkan hasil ≥ 200mg/dl, atau glukosa darah puasa ≥126mg/dl. Bila anda mengalami salah satu atau beberapa gejala seperti diatas, segeralah untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Faktor risiko kejadian diabetes melitus antara lain :
Berdasarkan faktor risiko yang sudah disebutkan, hal-hal tersebut dapat menjadi perhatian untuk kita dalam rangka mencegah penyakit diabetes melitus tipe 2. Upaya pencegahan yang dapat anda lakukan terutama adalah perubahan gaya hidup. Perubahan gaya hidup harus menjadi intervensi awal, terutama bagi kelompok risiko tinggi. Selain itu, dianjurkan juga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala pada kelompok usia lebih dari 45 tahun.
Perubahan gaya hidup yang dianjurkan adalah :
Artikel Kesehatan ini ditulis oleh dr. Melati Nuretika, Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga.