Hubungan antara ASI dan Diare
Anak adalah aset berharga bagi setiap orang tua. Hak terbaik yang bisa diberikan pada anak untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya pasti akan diusahakan dengan maksimal. Termasuk ASI, nutrisi yang punya keunggulan dahsyat dan mudah didapat, namun cakupan keberhasilan pemberiannya masih kurang memuaskan.
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan alamiah terbaik yang dapat diberikan oleh seorang Ibu kepada anaknya. Adanya faktor protektif dan nutrient yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik, serta kesakitan dan kematian anak menurun. Hal yang menarik lagi adalah komposisi ASI sesuai dengan pertumbuhan bayi yang bisa berubah sesuai dengan kebutuhan setiap saat , selain itu juga terdapat zat pelindung untuk menghindari berbagai infeksi. Penelitian membuktikan bahwa problem kesulitan pemberian makanan bayi yang mendapat ASI jauh lebih sedikit daripada bayi yang mendapat susu formula. Belum lagi keuntungan ekonomis serta kedekatan emosional antara ibu dan bayi yang pengaruhnya begitu luar biasa bagi perkembangan jiwa anak.
Mengingat hebatnya kemanfaatan ASI, tidak heran jika pemerintah menjadi peduli dengan keberhasilan ASI. Bentuk kepedulian tersebut terbukti dengan adanya peraturan hukum terkait ASI. Salah satunya yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomer 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Pada Pasal 6 berbunyi “Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya”. ASI eksklusif yang dimaksudkan disini adalah tidak memberi bayi makanan atau minuman lain, termasuk air putih, selain ASI (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes) selama 6 bulan pertama. Dalam hal ini ASI perah boleh diberikan. Selanjutnya, pemberian ASI dianjurkan hingga 2 tahun.
ASI merupakan nutrisi baik sebagai pencegah maupun penyembuhan diare. Diare merupakan tanda kelainan gastrointestinal ataupun infeksi saluran cerna yang cukup sering terjadi pada bayi maupun anak. Pencegahan serta pengobatan yang tepat merupakan keharusan untuk menghindari kondisi dehidrasi. Manfaat ASI pada kelainan gastrointestinal terutama disebabkan adanya faktor peningkatan pertumbuhan sel usus, faktor perlindungan berupa zat imunologi atau anti infeksi sehingga vili dinding usus cepat mengalami penyembuhan setelah rusak karena diare, akibatnya diare cepat berhenti.
Pada ASI terkandung Epidermal Growth Faktor (EGF) yang merupakan komponen terbanyak dari faktor pertumbuhan yang mempunyai efek terhadap proliferasi dan diferensiasi dari epitel usus. Di samping itu dikenal juga lactobacillus bifidus, laktoferin, lisozym, imunitas humoral dan imunitas seluler. Kesemuanya itu merupakan faktor-faktor kekebalan yang terdapat pada ASI, dimana perannya penting dalam mencegah berbagai penyakit. Infeksi saluran cerna baik akut maupun kronik, infeksi saluran napas merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan ASI, ditambah dengan fungsi anti virus, anti bakteri, maupun anti parasit yang juga berperan kuat.
Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa ASI sangat bermanfaat dalam pencegahan dan penyembuhan infeksi saluran cerna seperti diare akut maupun kronik. Untuk itu pemberian ASI selayaknya menjadi prioritas dengan memperjuangkan ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan bayi dan dilanjutkan hingga 2 tahun dengan makanan pendamping.
di sunting oleh dr. Farida Rahmi Ramadhani ( Dokter Umum RSUHI )
About the Author