Kejang demam merupakan penyebab kejang yang paling sering dijumpai pada anak, biasanya terjadi antara usia 3 bulan sampai 5 tahun dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan hampir sama. Insiden kejang demam pada anak mencapai 15 %. Di Amerika Serikat 2-5 % anak akan mengalami kejang demam, Sementara di negara-negara lainnya seperti jepang angka kejadian lebih tinggi yaitu 6-9 %. Faktor resiko seperti usia, durasi kejang, suhu pada saat kejang dan riwayat keluarga dapat memberikan prediktor akan berkembang menjadi masalah neurologis di masa depan.
Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan kejang yang terjadi pada suhu tubuh 38 0 C (rectal), biasanya terjadi pada bayi dan anak antara usia 6 bulan dan 5 tahun yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (di luar kepala) dan tidak terbukti adanya penyebab tertentu.
Hal – hal yang terkait dengan usia, durasi kejang, suhu pada saat kejang dan riwayat keluarga dapat memberikan prediktor akan berkembang menjadi masalah neurologis di masa depan. Sementara itu faktor resiko untuk terjadinya kejang demam berulang yaitu adanya riwayat kejang demam dalam keluarga, usia saat kejang pertama kurang dari 15 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, cepatnya timbul kejang setelah demam. Bila terdapat seluruh faktor resiko di atas, maka kemungkinan berulang 80 %, sedangkan bila tidak terdapat factor tersebut hanya 10-15 % kemungkinan berulang. Faktor resiko lain yang diketahui juga dapat menimbulkan bangkitan kejang berulang yaitu riwayat keluarga baik ayah, ibu, kakek ataupun nenek yang pernah kejang demam, perawatan bayi baru lahir di rumah sakit lebih dari 30 hari, adanya keterlambatan perkembangan setelah kejang demam pertama kali.
Kejang demam kebanyakan disertai infeksi virus dibandingkan bakteri, umumnya terjadi pada 24 jam pertama sakit dan berhubungan dengan dengan infeksi saluran nafas akut, seperti faringitis dan otitis media (saluran telinga tengah), pneumonia (radang paru – paru), infeksi saluran kemih serta gangguan infeksi saluran cerna.
Kejang demam dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam komplek. Yang termasuk kejang demam sederhana apabila:
Sedangkan yang termasuk kejang demam kompleks apabila:
Sebagian besar kejang demam, 65% berupa kejang demam sederhana dan 35% berupa kejang demam kompleks.
Untuk mencegah terjadinya kejang demam, ada beberapa hal yang dapat dilakukan ibu yaitu memberi obat penurun panas jika anak demam (suhu tubuh >37,5), memberikan kompres hangat, dan jangan lupa selalu ukur suhu saat anak sedang demam. Lalu apa yang harus dilakukan ibu saat anak mengalami kejang? Yang pertama adalah jangan panik, upayakan diri setenang mungkin. Kemudian anak dibaringkan di tempat datar dengan posisi menyamping bukan telentang, utk menghindari tersedak. Jangan meletakkan benda apapun seperti sendok dalam mulut anak karena dapat menyumbat jalan nafas. Jangan memegangi anak erat – erat utk melawan kejang karena dapat mengakibatkan luka ataupun patah tulang. Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Artikel di tulis oleh :
dr. Sukma Melati Mahalia – Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga

About the Author