Oleh dr. Ridwan Fauzi – Dokter Umum RSU Harapan Ibu
Plantar fasciitis atau nyeri tumit merupakan gangguan pada jaringan otot bagian bawah kaki (plantar fascia) karena peradangan. Nyeri tumit bisa dialami oleh semua orang dari berbagai rentang usia, terutama bagi orang-orang dengan risiko. Faktor risiko nyeri tumit antara lain usia dewasa, obesitas, penggunaan alas kaki yang tidak tepat ( sepatu alas datar ataupun sepatu berhak tinggi), sering berdiri lama, aktivitas atau olahraga yang terlalu membebani kaki, dan kelainan bentuk kaki. Selain itu, riwayat penyakit atau adanya penyakit penyerta bisa juga memperparah nyeri pada tumit, contohnya rheumatoid arthritis.

Biasanya nyeri muncul di salah satu kaki tapi bisa juga keduanya, sering muncul pada langkah awal setelah bangun tidur atau setelah duduk lama dan semakin berkurang setelah bergerak. Pada dasarnya nyeri tumit bisa membaik da sembuh sendiri. Meskipun begitu, efek dari nyeri tumit yang mengganggu aktifitas sehari-hari mendorong orang untuk berobat. Jadi, kapan sebaiknya pergi ke dokter? Sebaiknya periksa ke dokter jika didapatkan keluhan berikut:
Terapi
Terapi konservatif merupakan hal pertama yang harus dilakukan pada penanganan nyeri tumit. Salah satunya dengan cara istirahat atau modifikasi aktifitas agar dapat memberikan waktu untuk kaki menyembuh. Bisa juga menggunakan es yang langsung ditempelkan ke kaki yang sakit untuk mengurangi peradangan. Jika hal tersebut sudah dilakukan tapi nyeri masih dirasa mengganggu, terapi medis menggunakan obat-obatan seperti kortikosteroid dan atau nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) bisa menjadi pilihan, contohnya seperti ibuprofen. Terapi ini merupakan terapi termurah dan non-invasif, tapi seringnya hanya untuk meringankan sementara saja.
Merupakan terapi paling efektif, terpopuler, dan murah yang dapat dilakukan sendiri oleh pasien dan keteraturan merupakan kunci kesuksesan terapi ini. Namun demikian, sebaiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk memastikan diagnosis dan stretching seperti apa yang dibutuhkan oleh pasien.
Orthotic bisa didapatkan dimana saja di berbagai center alat-alat kesehatan. Ini dipakai terutama untuk nyeri tumit yang disebabkan karena adanya kelainan bentuk kaki bawaan atau penggunaan alas kaki yang tidak tepat. Orthotic berfungsi untuk mengurangi tekanan pada tumit, sehingga dapat memberikan watu pada otot-otot bawah kaki untuk istirahat dan menyembuh.
Seperti namanya, night splint hanya digunakan pada malam hari sewaktu tidur. Hal ini bertujuan agar pada saat tidur posisi kaki selalu fleksi sehingga ketegangan otot berkurang. Night splint termasuk terapi yang efektif untuk mengurangi nyeri tumit.
Injeksi obat-obatan bisa dilakukan jika nyeri tidak membaik dengan terapi sebelumnya dan tentunya setelah mendapat assasment dari dokter. Injeksi hanya boleh dilakukan oleh tenaga ahli dan tidak boleh diulang dalam 3 bulan karena memiliki risiko terjadinya kerusakan pada otot bawah kaki.
ESWT bisa dilakukan untuk pasien-pasien yang setelah mendapat terapi-terapi diatas tidak ada respon penyembuhan. Pada terapi ini menggunakan gelombang suara energi tinggi untuk menghasilkan cidera mikro pada otot yang memicu neovascularisasi dan penyembuhan. Namun berisiko juga terjadinya cidera permanen. Tingkat kesuksesan terapi ini terbilang tinggi hingga 98% dalam satu tahun terapi rutin.
Pembedahan bisa menjadi pilihan jika nyeri menetap dalam 6-12 bulan setelah mendapat terapi yang adekuat. Tentunya harus dengan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli.
Referensi:
About the Author