BAHAYA RUBELA PADA IBU HAMIL

ByRSU Harapan Ibu

BAHAYA RUBELA PADA IBU HAMIL

Artikel ditulis oleh : dr. Fauziah Rizki Ismaulidiya

Rubela atau yang lebih dikenal dengan istilah campak jerman  merupakan penyakit akibat infeksi virus rubela yang dapat terjadi baik pada anak maupun orang dewasa. Jika penyakit ini terjadi  pada anak atau orang dewasa tidak akan berakibat fatal, namun jika infeksi virus ini terjadi pada ibu hamil virus ini dapat menginfeksi janin di dalam kandungan. Infeksi virus rubela pada janin dapat menyebabkan terjadinya sindrom  rubela kongenital.

Sindrom rubela kongenital merupakan suatu kumpulan gejala penyakit yang terdiri dari katarak (kekeruhan  lensa mata), penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan. Gejala yang paling banyak ditemukan pada bayi dengan sindrom rubela kongenital adalah adanya gangguan pendengaran.

Sebagian besar kejadian infeksi virus rubela pada masa kehamilan, terjadi pada ibu hamil yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus rubela. Jika ibu hamil terinfeksi virus ini pada bulan pertama kehamilan, resiko terjadinya sindrom  rubela kongenital sebesar 43 %, resiko ini akan  meningkat jika infeksi terjadi dalam 3 bulan pertama kehamilan. Ibu hamil yang terinfeksi dalam  3 bulan pertama  kehamilan dapat mengalami keguguran, bayi lahir mati, atau kelainan bawaan berat yaitu sindrom rubela kongenital. Sedangkan jika terinfeksi pada umur kehamilan  3 sampai 5 bulan resiko terjadi sindrom rubela kongenital sebesar 23 %. Pada ibu hamil yang terinfeksi virus rubeladiusia kehamilan diatas 5 bulan, jarang ditemukan adanya kelainan atau cacat bawaan pada janin.

Tidak terdapat pengobatan spesifik untuk sindrom rubela kongenital. Pengobatan yang diberikan biasanya hanya dilakukan untuk memperbaiki kelainan yang ditimbulkan. Jika terjadi kelainan pada jantung maka dilakukan tindakan operasi, jika terjadi gangguan pendengaran dapat dilakukan implantasi atau penanaman koklea di telinga tengah, sedang jika didapatkan adanya gangguan tumbuh kembang dapat diterapi dengan berbagai macam fisioterapi.

Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin rubela dan mencegah  ibu hamil kontak dengan penderita rubela. Vaksin rubela terutama diberikan pada anak  perempuan, agar kadar antibodi yang ada pada saat usia reproduksi tercukupi. Satu dosis vaksin ini dapat memberikan perlindungan hingga 95 % selama hidup. WHO merekomendasikan pemberian vaksin rubela, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Vaksin rubela di Indonesia tersedia dalam bentuk sediaan tunggal atau kombinasi dengan vaksin lain seperti mumps (untuk mencegah gondongan) dan  measles (untuk mencegah campak) atau yang dikenal dengan istilah MMR (Mumps Measles Rubela)  / MR (Measles Rubela). Vaksin ini dapat diberikan  mulai usia 9 bulan hingga 15 tahun. Kemungkinan terjadinya efek samping setelah imunisasi seperti demam, kejang demam, penurunan kadar keping darah, dan terjadinya reaksi alergi sangat kecil. Kejadian  kejang demam atau demam  setelah imunisasi terjadi pada 1 dari 3.000 penyuntikan. Kejadian penurunan kadar keping darah terjadi pada 1 dari 30.000 penyuntikan vaksin, sedangkan reaksi alergi terjadi pada 1 dari 100.000 penyuntikan vaksin ini. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa vaksin ini cukup aman digunakan dan sangat jarang menimbulkan reaksi atau efek samping setelah  imunisasi yang berat. Mari kita sehatkan generasi penerus bangsa Indonesia dengan vaksinasi !

 

About the Author

RSU Harapan Ibu administrator

    Leave a Reply