Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting

ByFrizka Arlyfia Firdha Shafara, S.Gz. - Ahli Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga

Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia mengalami penurunan 1,6% per tahun dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 24,4% pada tahun 2021, akan tetapi angka ini masih tergolong relatif besar dari standar WHO yaitu 20%.

Apa Itu Stunting?

Stunting merupakan masalah yang mengakibatkan kondisi gagal tumbuh pada anak usia kurang dari lima tahun. Penyebab stunting dimulai saat anak di dalam kandungan karena pola makan ibu yang kurang baik, namun gejalanya baru muncul ketika anak berusia sekitar dua tahun. Anak yang mengalami kondisi stunting bukan hanya pertumbuhan fisiknya saja yang terganggu, melainkan perkembangan otaknya juga akan terganggu. Hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi anak tersebut. Kondisi stunting pada anak usia di bawah 2 tahun akan memberikan pengaruh pada usia dewasanya nanti seperti penurunan IQ, obesitas, penyakit tidak menular dan lain-lain.

Dapatkah Gagal Tumbuh Anak Dicegah?

Kabar baiknya stunting dapat dicegah sedini mungkin, terutama pada masa 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan), terdiri atas 270 hari selama kehamilan yang dimulai sejak hari pertama pembuahan atau terbentuknya janin, dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan anak. Perkembangan fisik maupun otak anak sangat pesat pada masa ini, sehingga pemenuhan gizi di masa ini sangat perlu diperhatikan, sebab jika tidak dipenuhi asupan gizinya, maka dampak yang timbul selama perkembangan anak akan bersifat permanen.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Seorang ibu harus memiliki status gizi yang baik dan tidak mengalami anemia sebelum dan selama mengandung. Calon ibu perlu menerapkan diet gizi seimbang sebelum kehamilan. Kemenkes merekomendasikan bahwa makanan yang sehat harus terdiri dari sepertiga buah dan sayuran, sepertiga makanan pokok seperti nasi dan sepertiga protein seperti daging, ikan atau sumber protein nabati. Asupan gizi merupakan salah satu faktor penentu kesehatan ibu dan janin. Kurangnya asupan gizi selama hamil dan gaya hidup yang kurang sehat membuat janin berisiko lebih tinggi mengalami gangguan, mulai dari hambatan tumbuh kembang hingga cacat bawaan lahir. Selama masa kehamilan seorang ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, dan suplemen yang mengandung omega 3 dan 6, zat besi (Fe), asam folat dan vitamin C. Selain asupan gizi yang harus terpenuhi, kontrol kehamilan secara rutin juga diperlukan untuk mengetahui kesehatan ibu dan janin. Menjelang melahirkan seorang ibu juga sudah harus mendapatkan edukasi pentingnya ASI dan MPASI, serta peran orang tua untuk mempraktikkan pola hidup bersih yang benar, termasuk mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum meyiapkan makanan atau makan.

Sangat dianjurkan bagi bayi yang baru lahir harus mendapat IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan ASI Eksklusif. Selanjutnya bayi yang sudah berumur 6 bulan atau lebih mulai diberi MPASI (Makanan pendamping ASI). Menginjak umur 8-24 bulan dilanjutkan dengan ASI dan diberi makanan sesuai dengan kemampuan bayi. Asupan gizi yang diberikan kepada bayi harus mengandung gizi seimbang yang terdiri dari sumber karbohidrat (nasi, ubi, kentang, jagung), protein (ikan, ayam, daging, telur, tahu, tempe, kacang-kacangan), lemak (minyak goreng, margarin, dan mentega) dan vitamin  & mineral dari buah-buahan atau sayur-sayuran.

Terpenuhinya gizi seimbang sejak dini yakni pada masa 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan) dapat mencegah terjadinya stunting, dan diharapkan akan menjadi generasi penerus bangsa yang berstatus gizi baik, sehat, dan berprestasi.

Tentang Penulis

Artikel Kesehatan ini ditulis oleh Frizka Arlyfia Firdha Shafara, S.Gz., Ahli Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga.

About the Author

Frizka Arlyfia Firdha Shafara, S.Gz. - Ahli Gizi RSU Harapan Ibu Purbalingga author

    Leave a Reply