Monthly Archives:June 2020

ByRSU Harapan Ibu

Dokter Gigi RSU Harapan Ibu

ByRSU Harapan Ibu

Sadari Gejala DHF/DBD di Tengah Pandemi COVID-19

oleh Suriyah, Amd, Kep – Perawat RSU Harapan Ibu Purbalingga

Dengue Haemoragic Fever (DHF) atau yang biasa dikenal dengan istilah DBD atau demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang diperantai oleh nyamuk Aedes Aegepty dan Aedes Albopictus. Berdasarkan Kemenkes RI 2020, angka kejadian demam berdarah dari Januari-April 2020 di Indonesia mencapai 49.941 kasus, untuk provinsi Jawa Tengah sebanyak 2.115 kasus, Kabupaten Purbalingga mencapai 145 kasus, dan di RSU Harapan Ibu Purbalingga pada bulan Mei sebanyak 22 kasus. Kasus demam berdarah biasanya meningkat pada musim hujan, karena nyamuk membutuhkan media air untuk berkembang biak. Pada situasi Pandemi COVID-19, pentingnya masyarakat untuk mengetahui gejala-gejala demam berdarah agar cepat mendapatkan perawatan yang tepat dan tidak menimbulkan hal yang fatal, salah satunya adalah kematian. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan bahwa masyarakat diminta untuk waspada DBD di tengah pandemi COVID-19 yang masih terus menelan banyak korban.

Demam berdarah biasanya diawali dengan gejala awal yaitu demam tinggi mendadak 38-40 derajat celcius yang berlangsung 2-7 hari, lemah dan lesu, timbul bintik-bintik merah yang muncul disekitar tubuh 3-4 hari setelah demam, rasa nyeri pada otot, persendian, dan tulang, mual, muntah, nyeri perut menyeluruh, nyeri tenggorokan, sakit kepala parah disertai sakit pada bagian kepala belakang, berdarah pada gusi, hidung. Jika kita sudah mengetahui tentang gejala demam berdarah maka segeralah untuk memeriksakan ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan terdekat. Sampai saat ini belum ada vaksin untuk demam berdarah. Pengobatan biasanya bertujuan untuk mengatasi gejala dan mencegah virus semakin berat. Selain mengetahui tentang gejala demam berdarah, kita juga harus mengetahui pecegahan demam berdarah. Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan? Menurut Kemenkes RI upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan adanya gerakan 3M plus yaitu menguras, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas. Sedangkan yang dimaksud dengan plus adalah memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, mengunakan obat anti nyamuk atau lotion, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, meletakan pakaian kotor ditempat yang tertutup, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Cara yang dapat dilakukan untuk menjaga sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh yaitu dengan menjaga asupan gizi seimbang, berolahraga dan meminum suplemen tambahan.

ByRSU Harapan Ibu

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

ByRSU Harapan Ibu

LUKA AKIBAT TEKANAN (ULKUS DECUBITUS)

Oleh dr. Alvin Aditya S, Sp.PD – Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSU Harapan Ibu Purbalingga

Apa itu luka akibat tekanan (ulkus dekubitus) ?

Adalah luka pada kulit dan jaringan dibawahnya yang biasanya  terjadi pada tonjolan tulang sebagai akibat dari adanya gaya gesek, peregangan kulit dan tekanan. Tempat-tempat yang beresiko adalah kulit yang melapisi bokong, tulang ekor, tumit ataupun pinggang. Tempat lain seperti siku, lutut , sendi pergelangan kaki dan bagian belakang bahu juga rentan terkena.

Bagaimana bisa terjadi?

Luka tekanan terjadi karena adanya penekanan jaringan lunak yang mengakibatkan terjadinya sumbatan pembuluh darah dibawah kulit, bisa total tersumbat atau sebagian saja.  Gaya gesek dan peregangan kulit juga bisa membuat luka dengan menarik pembuluh darah yang mendarahi kulit, sehingga kulit tak mendapat nutrisi cukup. Luka tekanan terjadi pada orang yang cenderung tiduran atau tak bergerak dalam waktu lama.

Siapa yang beresiko ?

  1. Orang yang kekurangan energi dan protein, keadaan yang lembab, penyakit yang membuat aliran darah ke kulit berkurang.
  2. Pasien yang tak cukup minum sehingga kulit kering
  3. Kondis medis seperti diabetes yang menyebabkan gangguan aliran darah ke kulit.

Tahap-tahap luka akibat tekanan ?

Tahap 1 : hanya meliputi lapisan kulit terluar saja. Kulit masih utuh. Luka tampak kemerahan dengan warna kulit putih atau berwarna lebih gelap pada orang dengan kulit gelap. Kulit yang terkena dapat terasa lebih nyeri, lunak, panas atau terasa lebih dingin dibandingkan dengan kulit sekitarnya.

Tahap 2 : adalah luka terbuka. Lapisan terluar kulit (epidermis) dan lapisan di bawah nya ( dermis) mengalami kerusakan.dapat berbentuk luka terbuka seperti kawah dangkal dengan ada cairan di dalamnya.

Tahap 3 : luka ini berbentuk luka yang dalam hilangnya kulit biasanya sampai lapisan lemak. Luka dapat berbentuk seperti kawah.Dasar luka dari luka bisa didapatkan jaringan mati yang bewarna kekuningan.

Tahap 4 : luka dapat sampai kelihatan otot, tulang dan tendon. Dasar luka adalah cairan kotor keruh dengan jaringan mati.

Komplikasi yang dapat terjadi?

  1. Radang kulit /selulitis , adalah infeksi dari kulit dan jaringan lunak. Tandanya yaitu area yang terkena bewarna kemerahan dan bengkak. Orang dengan gangguan saraf perasa tak merasakan nyeri pada area yang terkena.
  2. Infeksi tulang dan persendian : infeksi dari luka tekanan dapat merembet  ke tulang lunak dan jaringan. Infeksi tulang dapat mengurangi fungsi dari sendi dan anggota gerak.
  3. Kanker : kanker dapat tercetus dari luka yang tak sembuh dalam waktu lama
  4. Fistula urethra( terjadi lubang pada luka di kulit dengan saluran kemih)
  5. Anemia karena peradangan kulit yang terjadi terus menerus.

Pencegahan

Pada pasien yang rentan terkena luka tekanan perlu diperiksa ada tidaknya luka tiap hari. Perawat pasien perlu memeriksa dari ujung kepala sampai dengan kaki, memperhatikan kulit di daerah tonjolan tulang.

  1. Mengganti posisi pasien tiap 2 jam jika pasien tak bisa bergerak sama sekali di tempat tidur. Jangan memposisikan bed naik lebih dari 30 derajat ketika menaikkan kepala pasien.
  2. Menggunakan alat bantu seperti bantal busa lunak untuk mengurangi tekanan pada kulit
  3. Menjaga kulit tetap bersih dan kering. Bisa digunakan bedak untuk kulit yang rentan terkena gesekan
  4. Kulit yang terlalu kering dapat diberi lotion pelembab.
  5. Menjaga asupan makanan bergizi dan cukup minum
  6. Membantu pasien untuk berlatih menggerakkan tubuhnya, misalnya dengan mengganti posisi bokong yang terkena tekanan (kanan-kiri) saat duduk lama di kursi roda
  7. Membersihkan seksama setelah pasien kencing atau buang air besar.

Pengobatan

Tergantung dari derajat lukanya, terapi dapat meliputi hal-hal berikut

  1. Membersihkan luka dan menempatkan “dressing”/pembalut ada luka.
  2. Perawatan luka dengan mengganti pembalut secara teratur
  3. Mengurangi tekanan pada luka denggan cara mengubah posisi dan menggunakan papan pendukung
  4. Penggunaan antibiotik untuk pengobatan infeksi
  5. Pengobatan nyeri untuk meringankan gejala
  6. Pembedahan untuk membuang jaringan yang sudah mati dari luka
  7. Pengaturan gizi dan meningkatkan asupan cairan untuk penyembuhan yang lebih cepat.

Kapan sebaiknya pasien mendapat penanganan medis segera?

Bila anda mengalami demam, nanah mengalir dari luka, luka yang berbau busuk dan kemerahan pada luka bertambah, luka makin teraba panas dan makin bengkak, dibutuhkan penanganan medis secepatnya.

Demikian penjelasan kami.

Semoga bermanfaat bagi pembaca, terimakasih.

Lokasi tubuh yang rentan terhadap timbulnya luka tekanan


Lokasi tubuh yang rentan terkena luka tekanan jika pasien lama menggunakan kursi roda

Perawatan luka tekanan
ByRSU Harapan Ibu

Kenali Tanda dan Gejala Stroke dengan “SeGeRa Ke RS”

oleh dr. Faishal Hanif – Dokter Umum RSU Harapan Ibu Purbalingga

Stroke merupakan penyakit kerusakan sistem saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke sel-sel saraf di otak. Berdasarkan penyebabnya, stroke dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu stroke non hemoragik dan stroke hemoragik. Stroke non hemoragik atau stroke sumbatan disebabkan oleh adanya sumbatan di pembuluh darah yang menuju ke otak, sementara stroke hemoragik atau stroke perdarahan disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Kedua jenis stroke tersebut mengakibatkan gangguan pengiriman oksigen dan gula ke otak sehingga terjadi kematian sel-sel saraf di otak.

Hingga saat ini, stroke menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor 1 di Indonesia. Stroke juga menjadi penyakit dengan dampak ekonomi paling besar baik dari tingginya biaya pengobatan hingga hilangnya produktivitas pada pasien pasca stroke. Karena itulah, mengenali dan menghindari faktor risiko stroke menjadi sangat penting.

Kenali Tanda dan Gejalanya

Gejala yang dialami penderita stroke dapat cukup bervariasi seperti kelemahan anggota gerak pada separuh badan, kesemutan separuh badan, kesulitan bicara atau bicara tidak jelas, wajah perot, sakit kepala, atau kejang. Gejala-gejala tersebut muncul mendadak dan dapat muncul salah satu saja atau beberapa secara bersamaan. Untuk mempermudah anda, mari kita kenali gejala awal stroke dengan singkatan “SeGeRa Ke RS”:

  1. Se           : Senyum tidak simetris secara tiba-tiba
  2. Ge          : Gerak separuh anggota badan melemah secara tiba-tiba
  3. Ra           : BicaRa pelo / tidak bisa bicaRa / tidak paham saat diajak bicaRa / bicaRa tidak nyambung
  4. Ke           : Kebas / Kesemutan separuh tubuh yang muncul tiba-tiba
  5. R             : Rabun pada pandangan salah satu mata yang muncul tiba tiba
  6. S              : Sakit kepala hebat atau Sakit kepala berputar yang muncul tiba-tiba

Jika anda atau orang terdekat anda merasakan salah satu atau beberapa gejala tersebut, maka SEGERA KE RUMAH SAKIT untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari dokter. Semakin cepat anda mendapatkan pemeriksaan dan pertolongan maka kemungkinan kematian dan kecacatan yang parah dapat diperkecil.